"Article ZoOm"

Wednesday, 22 January 2014




Robot Dalam Pertempuran Dimasa Depan
Akan Menjadi Kenyataan





Kebutuhan akan manusia dalam perang atau konflik bersenjata mungkin segera berakhir. Perangkat-perangkat keras militer di masa depan mungkin sudah mampu berpikir dan bertindak sendiri di dalam pertempuran.

Perangkat keras militer yang dimaksud adalah robot otonom yang tidak mengenal rasa takut dan belas kasih. Salah satu jenis robot otonom yang dikembangkan saat ini adalah UAV atau pesawat udara tanpa awak. Walapun belum sepenuhnya otonom, UAV-UAV saat ini bisa dikirimkan ke lokasi pertempuran hanya dengan diluncurkan dan diperintah oleh manusia dari pangkalan militer yang jauhnya ratusan atau bahkan ribuan kilometer.

Sejak UAV seperti Predator dipersenjatai untuk digunakan dalam Perang Irak dan Afghanistan pada awal 2000-an, senjata siluman ini telah memainkan peran kunci Barat dalam "Perang Melawan Teror." UAV Predator menemukan lokasi Osama bin Laden pada tahun 2011, dan juga UAV Predator lah yang melancarkan serangan rudal akhir tahun lalu yang menewaskan pemimpin Taliban Pakistan Hakimullah Mehsud. Sejak awal mereka digunakan, tercatat UAV sudah terbang di Afghanistan sebanyak 200.000 jam.

Operator UAV sudah tentu tidak turut bertempur secara fisik, mereka berada di lokasi yang aman, terkadang bahkan sang operator tidak berada di negara tempat terjadinya pertempuran. Operator membuat keputusan sesuai dengan situasi yang mereka lihat di layar komputer yang dikirimkan secara real time oleh UAV. Keberhasilan cara bertempur semacam ini membuat AS melatih lebih banyak personel untuk menerbangkan UAV ketimbang menerbangkan pesawat tempur sesungguhnya.

Hukum pertempuran atas UAV seperti Predator dan Reaper melanggar hukum pertempuran atau tidak masih dalam perdebatan. Dasar argumen penggunaan UAV-UAV ini adalah bahwa tindakan yang hanya dilihat dari jarak ribuan kilometer jauhnya melalui layar komputer bisa saja salah, yang tentunya memiliki konsekuensi yang berat. Yang pasti, UAV saat ini masih menggunakan tenaga manusia. Bagaimana di masa depan? Yang sudah meniadakan unsur manusia, tentunya akan lebih keras dan sadis. Senjata-senjata masa depan ini akan menemukan dan menyerang targetnya sendiri, total senjata ini akan berpikir secara otonom. Setelah dikirimkan atau diterbangkan, mereka akan berperang sendiri. Mungkin istilah yang tepat untuk menggambarkannya adalah "Tembak dulu, baru bertanya kemudian."

Apa yang akan dihadirkan senjata-senjata masa depan tersebut?
Tentu saja belum banyak yang bisa diketahui, karena sebagian besar teknologi senjata masa depan disimpan dengan rapat. Tapi tanpa disadari, Anda mungkin pernah "bersentuhan" dengan perangkat-perangkat militer masa depan. Masa?

Jika Anda memainkan game Call of Duty: Black Ops 2, Anda tentu akrab dengan senjata futuristik seperti Dragonfire quadrotors dan AGR (Autonomous Ground Robot). Teknologi ini sangat mungkin dibuat.

Satu lagi, Lodestar. Lodestar adalah multiplayer killstreak yang memungkinkan pemain mengontrol rudal yang ditembakkan dari sebuah pesawat terbang di atas peta. Nah, Lodestar akan menjadi bagian nyata dari peralatan militer ketika pada saatnya nanti Angkatan Udara AS mengutus UCAS X47-B terjun ke pertempuran sesungguhnya. X47-B saat ini sedang dalam fase uji demonstrasi dan uji coba. Ini adalah Unmanned Combat Air System yang mampu terbang tanpa kendali manusia, mirip dengan pesawat rekaan pada film Stealth tahun 2005.





Hubungan antara dunia virtual dan dunia nyata tidak berhenti hanya sampai disitu. Tom Clancy's Ghost Recon: Future Soldier juga menampilkan teknologi militer masa depan. Live-action trailer dari game tersebut menampilkan hal yang mirip dengan AGR dalam game Call of Duty, yang mampu menghancurkan target tanpa perlu interaksi dengan manusia.

Kembali ke realita
Teknologi semacam ini sedang dikembangkan, dan nantinya akan mampu membuat keputusan sendiri. Lihat saja Samsung dan G-NIUS yang telah mengembangkan versi awal kendaraan dan peralatan militer yang dapat beroperasi sendiri.

G-NIUS misalnya. Dinyatakan dalam laman resminya bahwa mereka adalah perusahaan sistem darat tak berawak terkemuka Israel. Mereka mengklaim teknologi mereka bisa memberikan solusi untuk hampir semua situasi pertahanan.

Salah satu kreasi terbarunya adalah Guardium MK.1. Guardium adalah kendaran robot bersenjata yang dikembangkan untuk ditempatkan di lokasi-lokasi perimeter tertutup seperti bandara, pembangkit energi dan perbatasan.

Jika Anda berpikir G-NIUS saja sudah menakutkan, maka SGR-1 Samsung mungkin akan menjadi mimpi terburuk seseorang. SGR-1 pada dasarnya hanyalah sebuah senjata penjagaan yang diciptakan untuk memantau zona demiliterisasi Korea (Korsel-Korut). Sensornya dapat mendeteksi wajah pada jarak lebih dari 3 kilometer dan mampu menembakkan senapan mesin atau peluncur granat, full otomatis tanpa campur tangan manusia. Teknologi ini juga digunakan oleh Israel untuk menjaga perbatasannya.

Hidup di bawah kontrol robot
Bayangkan sebuah dunia dimana robot mendominasi segalanya. Beberapa contoh bagus bisa kita ambil dari film I, Robot, walaupun memang robot pada film itu digunakan untuk keperluan sipil, bukan militer.

Tapi prinsipnya sangat mirip. Jika robot menggantikan tentara di medan perang, perang akan berubah menjadi permainan catur di mana sang jenderal akan memindahkan bangkai/potongan robot yang hancur di sekitar papan catur tanpa peduli atas apa yang telah terjadi.

Jika sang jenderal hanya memindahkan sepotong logam dari medan perang tanpa rasa peduli, ini bukanlah tujuan akhir dari kekuatan teknologi. Perang bukan lagi untuk membela sekelompok orang atau bangsa, akan berubah menjadi tentang siapa yang memiliki senjata terbesar dan terbaik. Tidak peduli untuk membasmi koruptor atau tidak, yang penting mereka bisa membuat senjata yang dahsyat.

Bayangkan bila robot militer sudah dijual di perdagangan senjata internasional. Tentu permintaan akan sangat besar. Mereka akan menjadi game-changer bagi negara-negara atau bagi pemberontak-pemberontak yang telah terlibat dalam perang sudara atau konflik bersenjata yang panjang.





Akhir
Ada yang menilai bahwa robot-robot otonom yang sesungguhnya mungkin akan benar-benar muncul dalam 20-30 tahun ke depan. Di mana di masa itu prajurit tidak lagi dibutuhkan dalam pertempuran karena robot telah menggantikan mereka. Sebenarnya kesimpulan seperti itu berasal dari pikiran yang sempit. Meniadakan unsur manusia dalam persenjataan akan sangat berbahaya.


Labels:

Friday, 12 April 2013





BELL V-280 VALOR, PESAWAT TILTROTOR GENERASI KETIGA



"Dengan memperkenalkan Bell V-280 Valor, kami menegaskan komitmen kepada pelanggan militer kami. Kemampuan yang tak tertandingi dari Bell V-280 Valor dalam hal kecepatan, jangkauan danpayload, dan dikombinasikan dengan kelincahan operasional, akan memberikan nilai terbaik bagi Angkatan Darat AS," kata John Garrison, Presiden dan CEO Bell Helicopter.

"Pesawat ini merupakan solusi yang paling mutakhir dalam hal angkut operasional secara vertikal dan memberikan keuntungan warfighter. Nama pesawat ini sendiri memiliki makna penting : V mewakili angkat vertikal, 280 mewakili kecepatannya yang tak tertandingi, dan Valor (keberanian / kegagahan) sebagai penghormatan kepada pria dan wanita dalam layanan yang telah melakukan pekerjaan mereka dengan berani setiap hari," tambah Garrison.

Bell V-280 Valor, generasi ketiga tiltrotor dari Bell Helicopter, menawarkan kepada Angkatan Darat AS kesiapan teknis dan kematangan tingkat tinggi. Dengan desain US Army-centric, Bell V-280 memiliki kemampuan untuk menjalankan banyak misi dengan kecepatan dan kelincahan yang tak tertandingi. Desain clean sheet Bell-V-280 mengurangi kompleksitas dibandingkan dengan tiltrotor generasi sebelumnya, dengan bagian-bagiannya yang lebih sedikit. Valor menawarkan keunggulan terbaik dalam hal pengadaan, operasi dan dukungan, struktur kekuatan, peningkatan dalam hal perawatan, kehandalan komponen dan sistem yang dirancang untuk mengurangi biaya operasional dan dukungan.

"Bell V-280 adalah combat multiplier dengan kecepatan jelajah 280 knot dan jangkauan tempur hingga 800 mil laut. Tiltrotor adalah satu-satunya sistem angkat vertikal yang mudah disebarkan ke setiap teater (perang / operasi)," ujar Mitch Snyder, wakil presiden eksekutif untuk program militer di Bell Helicopter. "Demonstrator (Bell V-280 Valor) yang kami tampilkan ini adalah pesawat kelas menengah dengan 4 awak dan mampu menampung 11 tentara, yang mana ini adalah pencapaian tertinggi untuk keberlangsungan program-program di masa depan," tambah Snyder.






Bell V-280 Valor Army-centric ini menawarkan sejumlah kemampuan yang tak tertandingi dan fitur transformasional, antara lain :

Kecepatan : 280 knot
Jangkauan tempur : 500-800 mil laut
Penugasan strategis : 2.100 mil laut
Achieves : 6k/95 (hover out of ground effect [ HOGE ] 6.000 kaki di 95 derajat Fahrenheit
Sayap tetap non-berputar
Sistem kontrol penerbangan Triple redundant fly-by-wire
Roda pendaratan yang dapat ditarik
Dua pintu samping besar untuk kemudahan ingress / egress (masuk / keluar)
Suitable down wash

"Bell Helicopter saat ini memimpin dalam pengembangan generasi teknologi tiltrotor, ini adalah teknologi terbaik untuk angkat vertikal di masa depan. U.S. Army's JMR/TD Operational Effectiveness Analysis Report menyatakan bahwa keunggulan dalam hal kecepatan dan efisiensi bahan bakar membuat konsep tiltrotor menjadi konsep pesawat operasional yang paling efektif, ujar Snyder. "Dari pondasi pengalaman yang kuat dalam teknologi tiltrotor selama 55 tahun, termasuk platform tempur, Bell Helicopter telah menciptakan solusi akhir untuk kebutuhan FVL (future vertical lift) Angkatan Darat AS," tambah dia.

Bell Helicopter adalah salah satu pakar tiltrotor utama di dunia. Mereka memulainya dengan generasi pertama XV-3 dan XV-15, lanjut ke generasi kedua 609 (untuk sipil) dan V-22 Osprey. Didukung dengan pengalaman yang mumpuni, Bell Helicopter menjadi tim pemimpin pengembangan teknologi tiltrotor terbaik, sumber daya rekayasa mumpuni dan kemampuan industrinya mampu memenuhi kebutuhan Angkatan Darat AS.

Payload : Berat total instrumen, personel, kargo dan dll yang bisa di angkut. Jika dalam misil, berat hulu ledak yang bisa dibawa.

Downwash : Udara dipaksa turun ke bawah oleh aksi aerodinamis dari sayap atau rotor, sebagai upaya untuk proses angkat.
Pesawat akan menghasilkan gaya aerodinamis ketika membelokkan udara ke bawah. Ketika kekuatan "downwash" ini melebihi berat pesawat, maka pesawat akan naik ke udara.

Kredit foto : bellv280.com
Referensi: [artilery]

Labels:

Wednesday, 3 April 2013



Eurofighter Typhoon


Eurofighter Typhoon adalah sebuah pesawat tempur multi peran delta-canard bermesin ganda super lincah, dirancang dan dibuat oleh sebuah konsorsium negara-negara Eropa yang dibentuk pada 1983. Dalam rancangan dia menyerupai pesawat tempur modern Eropa lainnya, Dassault Rafale Perancis dan Saab Gripen Swedia. Karena kombinasi kelincahan, fasilitas stealth dan sistemnya yang modern dia dipandang luas sebagai pesawat tempur hebat.



Sejarah

Pada 1979 BAE Inggris dan MBB Jerman membuat proposal European Combat Fighter. Pada Oktober 1979 Dassault Perancis bergabung dan studi tiga negara ini dinamakan European Combat Aircraft (ECA) , pada saat ini nama Eurofighter pertama kali digunakan . Pada1981 Proyek ini berakhir karena beberapa hal, Perancis memaksa untuk menjadi pemimpin pada proyek ini. Inggris menginginkan mesinRB199 yang digunakan sedangkan Perancis lebih menyukai Snecma M88 .

Kemudian tiga perusahaan yang bermitra membuat Tornado dalam Panavia yaitu BAE, MBB, dan Aeritalia meluncurkan program Agile Combat Aircraft (ACA), pada April 1982. Program ini menghasilkan pesawat demostrator ACA yaitu Experimental Aircraft Programme(EAP) pada 1983.

Pada 1983 Inggris, Perancis, Jerman, Itali dan Spanyol meluncurkan program Future European Fighter Aircraft (FEFA). Pesawat ini memiliki kemampuan take Off dan landing dengan jarak pendek (STOL) dan perang diluar jangkauan mata (beyond visual range, (BVR)). Pada 1984 Perancis memasukan kebutuhannya akan versi kapal induk dan menginginkan posisi sebagai pemimpin dalam program ini. Inggris , Jerman Barat dan Itali memilih untuk keluar dari program dan memulai program EFA baru.

Di Turin pada 2 Agustus 1985, Itali, Jerman Barat, dan Inggris setuju untuk melanjutkan Eurofighter. Pengumuman ini mengkonfirmasi bahwa Perancis dan Spanyol memilih untuk tidak menjadi anggota proyek. Dikemudian hari dengan tidak memedulikan desakan dari Perancis, Spanyol bergabung kembali pada September 1985. Perancis secara resmi mengundurkan diri dari Proyek Eurofighter dan melanjutkan proyeknya sendiri yang dikemudian hari menjadi Dassault Rafale.

Pada tahun 1986 EAP terbang untuk pertama kalinya, pekerjaan mendesain dalam 5 tahun kedepan menggunakan data dari EAP. Pembelian awal adalah: Inggris 250 pesawat, Jerman 250, Itali 165, dan Spanyol 100. Prosentase bagian produksi mengikuti jumlah pembelian - British Aerospace (33%), Daimler-Benz (33%), Aeritalia (21%), dan Construcciones Aeronáuticas SA (CASA) (13%).

Pada 1986 juga didirikan Eurofighter Jagdflugzeug GmbH untuk mengatur proyek ini dan EuroJet Turbo GmbH, aliansi dari Rolls-Royce, MTU Aero Engines, FiatAvio (sekarang Avio), and ITP untuk mengembangkan mesin EJ200.



Dalam pengembangan banyak sekali pertentangan, misalnya pada 1990 terjadi perdebatan besar dalam pemilihan radar, Inggris, Spanyol, dan Itali menginginkan ECR-90 (Ferranti Defence Systems) sedangkan Jerman menginginkan memakai radar MDS2000 (Hughes, GEC-Marconi, AEG). Polemik berakhir setelah Inggris menggaransi bahwa GEC boleh membeli Ferranti Defence Systems, sehingga membuat GEC tidak lagi mendukung pengembangan MDS2000.

Akhirnya Peter Weger kepala tes pilot Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) dapat menerbangkan prototipe pesawat ini (kemudian dikenal sebagai Eurofighter EF 2000) pada 27 Maret 1994 di Bavaria setelah ditahun 90-an kita melihat pertentangan-pertentangan hebat dalam pembangunan pesawat ini. Pertentangan itu meliputi banyak hal, contohnya adalah masalah pembagian pekerjaan, spesifikasi pesawat dan bahkan partisipasi tiap negara dalam proyek ini.

Ketika kontrak produksi final ditandatangani pada 1997, pembelian total adalah sebagai berikut: Inggris 232, Jerman 180, Itali 121, and Spanyol 87. Produksi kemudian juga dialokasikan menurut jumlah pembelian: British Aerospace (37%), DASA (29%), Aeritalia (19.5%), dan CASA (14%).



Ringkasan Produksi
NegaraTahap 1Tahap 2Tahap 3Total
Austria018*018
Jerman446868180
Italia294646121
Arab Saudi0482472
Spanyol20333487
Inggris558988232
TOTAL148302260710

Pesawat sebanding

  • F-22 Raptor
  • Dassault Rafale
  • JAS 39 Gripen
  • Sukhoi Su-30
  • Sukhoi Su-35
  • Mikoyan Project 1.44


Labels:


F-22 Raptor


F-22 Raptor



F-22 Raptor adalah pesawat tempur siluman buatan Amerika Serikat. Pesawat ini awalnya direncanakan untuk dijadikan pesawat tempur superioritas udara untuk digunakan menghadapi pesawat tempur Uni Soviet, tetapi pesawat ini juga dilengkapi peralatan untuk serangan darat, peperangan elektronik, dan sinyal intelijen. Pesawat ini melalui masa pengembangan yang panjang, versi prototipnya diberi namaYF-22, tiga tahun sebelum secara resmi dipakai diberi nama F/A-22, dan akhirnya diberi nama F-22A ketika resmi mulai dipakai padaDesember 2005. Lockheed Martin Aeronautics adalah kontraktor utama yang bertanggungjawab memproduksi sebagian besar badan pesawat, persenjataan, dan perakitan F-22. Kemudian mitranya, Boeing Integrated Defense Systems memproduksi sayap, peralatan avionik, dan pelatihan pilot dan perawatan.


Sejarah 
Advanced Tactical Fighter (ATF) merupakan kontrak untuk demonstrasi dan program validasi yang dilakukan Angkatan Udara Amerika Serikat untuk mengembangkan sebuah generasi baru pesawat tempur superioritas udara untuk menghadapi ancaman dari luar Amerika Serikat, termasuk dikembangkannya pesawat kelas Su-27 era Soviet. 

Pada tahun 1981, Angkatan Udara Amerika Serikat memetakan syarat-syarat yang harus dipenuhi sebuah pesawat tempur baru yang direncanakan untuk menggantikan F-15 Eagle. ATF direncanakan untuk memadukan teknologi modern seperti logam canggih dan material komposit, sistem kontrol mutakhir, sistem penggerak bertenaga tinggi, dan teknologi pesawat siluman. 

Proposal untuk kontrak ini diajukan pada tahun 1986, oleh dua tim kontraktor, yaitu Lockheed-Boeing-General Dynamics dan Northrop-McDonnell Douglas, yang terpilih pada Oktober 1986 untuk melalui fase demonstrasi dan validasi selama 50 bulan, yang akhirnya menghasilkan dua prototip, yaitu YF-22 dan YF-23. 

Pesawat ini direncanakan untuk menjadi pesawat Amerika Serikat paling canggih pada awal abad ke-21, karena itu, pesawat ini merupakan pesawat tempur paling mahal, dengan harga US$120 juta per unit, atau US$361 juta per unit bila ditambahkan dengan biaya pengembangan. 

Pada April 2005, total biaya pengembangan program ini adalah US$70 miliar, menyebabkan jumlah pesawat yang direncanakan akan dibuat turun menjadi 438, lalu 381, dan sekarang 180, dari rencana awal 750 pesawat. Salah satu faktor penyebab pengurangan ini adalah karena F-35 Lightning II akan memiliki teknologi yang sama dengan F-22, tapi dengan harga satuan yang lebih murah 

Produksi
F-22 versi produksi pertama kali dikirim ke Pangkalan Udara Nellis, Nevada, pada tanggal 14 Januari2003. Pengetesan dan evaluasi terakhir dilakukan pada 27 Oktober 2004. Pada akhir 2004, sudah ada 51 Raptor yang terkirim, dengan 22 lagi dipesan pada anggaran fiskal 2004. Kehancuran versi produksi pertama kali terjadi pada 20 Desember 2004 pada saat lepas landas, sang pilotselamat setelah eject beberapa saat sebelum jatuh. Investigasi kejatuhan ini menyimpulkan bahwa interupsi tenaga saat mematikan mesin sebelum lepas landas menyebabkan kerusakan pada sistem kontrol.

Persenjataan
F-22 dirancang untuk membawa peluru kendali udara ke udara yang tersimpan secara internal di dalam badan pesawat agar tidak mengganggu kemampuan silumannya. Peluncuran rudal ini didahului oleh membukanya katup persenjataan lalu rudal didorong kebawah oleh sistem hidraulik. Pesawat ini juga bisa membawa bom, misalnya Joint Direct Attack Munition (JDAM) dan Small-Diameter Bomb (SDB) yang lebih baru. Selain penyimpanan internal, pesawat ini juga dapat membawa persenjataan pada empat titik eksternal, tetapi apabila ini dipakai akan sangat mengurangi kemampuan siluman, kecepatan, dan kelincahannya. Untuk senjata cadangan, F-22 membawa meriam otomatis M61A2 Vulcan 20 mm yang tersimpan di bagian kanan pesawat, meriam ini membawa 480 butir peluru, dan akan habis bila ditembakkan secara terus-menerus selama sekitar lima detik. Meskipun begitu, F-22 dapat menggunakan meriam ini ketika bertarung tanpa terdeteksi, yang akan dibutuhkan ketika rudal sudah habis.



Kemampuan siluman
Pesawat tempur modern Barat masa kini sudah memakai fitur-fitur yang membuat mereka lebih sulit dideteksi di radar dari pesawat sebelumnya, seperti pemakaian material penyerap radar. Pada F-22, selain pemakaian material penyerap radar, bentuk dan rupa F-22 juga dirancang khusus, dan detail lain seperti cantelan pada pesawat dan helm pilot juga sudah dibuat agar lebih tersembunyi. F-22 juga dirancang untuk mengeluarkan emisi infra-merah yang lebih sulit untuk dilacak oleh peluru kendali "pencari panas".

Namun, F-22 tidak tergantung pada material penyerap radar seperti F-117 Nighthawk. Penggunaan material ini sempat memunculkan masalah karena tidak tahan cuaca buruk. Dan tidak seperti pesawat pengebom siluman B-2 Spirit yang membutuhkan hangar khusus, F-22 dapat diberikan perawatan pada hangar biasa. Selain itu, F-22 juga memiliki sistem yang bernama "Signature Assessment System", yang akan menandakan kapan jejak radar pesawat sudah tinggi, sampai akhirnya membutuhkan pembetulan dan perawatan.

Pemakaian afterburner juga membuat emisi pesawat lebih mudah ditangkap oleh radar,ini diperkirakan adalah alasan mengapa pesawat F-22 difokuskan untuk bisa memiliki kemampuan supercruise.

Spesifikasi (F-22 Raptor)

Gambar teknis F-22.
Data dari USAF, situs Tim F-22 Raptor  
Persenjataan F-22.
Aviation Week & Space Technology

Karakteristik umum

  • Kru: 1
  • Panjang: 62 kaki 1 in
  • Lebar sayap: 44 kaki 6 in
  • Tinggi: 16 kaki 8 in
  • Luas sayap: 840 kaki²
  • Airfoil: NACA 64A?05,92 akar, NACA 64A?04,29 ujung
  • Bobot kosong: 31.670 lb
  • Bobot terisi: 55.352 lb
  • Bobot maksimum lepas landas: 80.000 lb
  • Mesin: 2× Pratt & Whitney F119-PW-100 Turbofan pengarah daya dorong pitch, 35.000 lb masing-masing

Kinerja

  • Laju maksimum: ≈Mach 2,42 (2.575 km/jam) pada altituda/ketinggian tinggi
  • Laju jelajah: Mach 1,72 (1.825 km/h) pada altituda/ketinggian tinggi
  • Jarak jangkau ferri: 2.000 mi
  • Batas tertinggi servis: 65.000 kaki
  • Laju panjat: rahasia
  • Beban sayap: 66 lb/kaki²
  • Dorongan/berat: 1,26
  • Maximum g-load: −3/+9 g

Persenjataan

Meriam: 1× 20 mm (0,787 in) M61A2 Vulcan gatling gun di pangkal sayap kiri, 480 butir peluru

Udara ke udara:
  1. 6× AIM-120 AMRAAM
  2. 2× AIM-9 Sidewinder
Udara ke darat: 
  1. 2× AIM-120 AMRAAM dan 
  2. 2× AIM-9 Sidewinder dan salah satu: 
  3. 2× 1.000 lb JDAM atau
  4. 2× Wind Corrected Munitions Dispensers (WCMDs) atau 
  5. 8× 250 lb GBU-39 Small Diameter Bomb
Avionik 
Radar: 125-150 mil (200-240 km) terhadap target 1 m² (perkiraan)



Labels:



Sukhoi Su-30





Sukhoi Su-30 (kode NATO: Flanker-C) adalah pesawat tempur yang dikembangkan oleh Sukhoi Rusia pada tahun 1996. Pesawat ini adalah pesawat tempur multifungsi, yang efektif dipakai sebagai pesawat serang darat. Pesawat ini bisa dibandingan dengan F/A-18E/F Super Hornet and F-15E Strike Eagle Amerika Serikat.

Pesawat ini adalah pengembangan dari Su-27UB, dan memiliki beberapa varian. Seri Su-30K dan Su-30MK telah sukses secara komersial. Varian-varian ini diproduksi oleh KnAAPO dan Irkut, yang merupakan anak perusahaan dari grup Sukhoi. KnAAPO memproduksi Su-30MKK dan Su-30MK2, yang dirancang dan dijual kepada Cina. Su-30 paling mutakhir adalah seri Su-30MK buatan Irkut. Antara lain Su-30MKI, yang merupakan pesawat yang dikembangkan khusus untuk Angkatan Udara India, serta MKM untukMalaysia dan MKA untuk Aljazair.

Sukhoi Su-27 (kode NATO: Flanker) adalah pesawat tempur yang awalnya diproduksi oleh Uni Soviet, dan dirancang oleh Biro Desain Sukhoi. Pesawat ini direncanakan untuk menjadi saingan utama generasi baru pesawat tempur Amerika Serikat (yaitu F-14 Tomcat, F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon, dan F/A-18 Hornet). Su-27 memiliki jarak jangkau yang jauh, persenjataan yang berat, dan kelincahan yang tinggi. Pesawat ini sering disebut sebagai hasil persaingan antara Sukhoi dengan Mikoyan-Gurevich, karena Su-27 dan MiG-29 berbentuk mirip. Ini adalah keliru, karena Su-27 dirancang sebagai pesawat interseptor dan pesawat tempur superioritas udara jarak jauh, sedangkan MiG-29 dirancang untuk mengisi peran pesawat tempur pendukung jarak dekat.





Keistimewaan dari Su-30MKI ini adalah:

  • Untuk pertama kalinya di dunia, produksi pesawat terbang yang memiliki mesin dengan tthrust vector kontrol (AL 31FP, dikembangkan oleh RDC setelah bernama A.Lyulka), dan sistem remote control terpadu dalam satu kontrol loop. Diambil bersama-sama, ini renders the Su-30MKI sangat lincah bermanuver;
  • Untuk pertama kalinya dalam sejarah Biro Desain, pesawat yang dilengkapi dengan avionics skala besar yang terintegrasi dengan sistem luar negeri dan dalam negeri asalnya. The Su-30MKI memiliki “internasional” avionics portofolio, karena tidak termasuk sistem dan 14 unit yang dibuat oleh perusahaan asing dari 6 negara di dunia.
  • Untuk pertama kalinya di dunia, sebuah pesawat produksi memiliki radar dengan PAA ( “Bar” dikembangkan oleh Scientific Instrumentation Research Institute of Technology). Selain itu, pesawat memilki new ejection seat yang baru, K-36D-3.5, dan inovasi lainnya dari sistem domestik asal.
  • ADO line-up telah ditingkatkan secara signifikan dengan penambahan RVV-AYe air-to-air guided missile, Kh-29L/T/TYe, Kh-31A/P, Kh-59M air-to-ground missiles, dan KAB-500 dan KAB-1500 guided bombs.
Su-30MKI dalam sejarah rusia untuk pertama kalinya memiliki program dalam sejarah showcased sebuah model baru bagi kerjasama militer-teknis termasuk semua jenis kerjasama jangka panjang yang saat ini dilakukan di dunia seperti:
  • Pengiriman pertama konsinyasi produk dalam versi dasar (Su-30K),
  • Kerjasama R & D untuk menghasilkan versi upgrade (Su-30MKI),
  • Memberikan pengguna lisensi untuk manufaktur dengan setelah penggantian komponen rusia yang dibuat dengan orang-orang asing asal (pada bulan Desember 2000, telah menandatangani kontrak untuk menjual ke India lisensi untuk pembuatan 140 pesawat Su-30MKI pada akhir pengiriman),
  • Mengupgrade pesawat dari pengiriman pertama untuk status teknik pengiriman akhir,
  • Menyiapkan kerjasama teknis untuk pusat layanan pasca penjualan dengan disertakan pemeliharaan peralatan,
  • Menggunakan «ekspor tempat» untuk memperluas ke pasar regional (di tahun 2003, kontrak dibuat untuk suplai Su-30MKM ke Malaysia).

Su-30MKK

Biro desain mulai bekerja untuk menghasilkan Su-30-berbasis dua kursi penerbang yang dirancang untuk Su -30MKK angkatan udara China pada 1997, AI Knyshev yang telah ditunjuk sebagai ketua perancang proyek. Di bawah kontrak, direncanakan Komsomolsk-on-Amur production(KnAAPO) dinamakan dengan kontraktor umum. Biro desain menghasilkan desain rinci pada 1997-98; prototipe pesawat yang dibuat di Komsomolsk-on-Amur di 1998-99. Versi baru dua penumpang berdasarkan pada desain solusi diadopsi untuk Su-27SK dan satu kursi fighter Su-27M. Akibatnya, Su-30MKK dimasukkan, untuk semua intents dan tujuan tanpa desain ulang, Su-27M’s centre wing section, wing panels, air intakes, tail beams, fins and landing gear and the Su-27SK’s tail-end fuselage dirangkai. Dengan cara ini, desain ruang lingkup dikurangi secara dramatis, tanpa ada komponen baru yang diperlukan untuk membangun pesawat terbang kecuali untuk hidung pesawat. Selain itu, rencana produksi telah ikut serta dalam menyiapkan produksi dua kursi pelatih pada awal’80 an. Prototipe pertama dibangun di musim semi 1999, Su-30MKK-1 yang diterbangan pada 20 Mei 1999 oleh Pilot I.Ye. Solovyov (Biro Desain) dan A.V. Pulenko (KnAAPO). Pertama empat pesawat pra-produksi yang diserahkan ke Desain Biro untuk pengujian. Pengujian yang dilakukan bersama-sama dengan SPFC dari Angkatan Udara di 1999-2001, dengan produksi pertama 10 Su-30MKK pesawat dikirimkan ke pelanggan pada bulan Desember 2000.

Su-30MKK desain highlights:

  • Pesawat ini memiliki peralatan upgrade dari mnufaktur Rusia, yang meliputi versi radar baru dengan tujuan dan sasaran pemetaan kemampuan; OSTS dengan target penyinaran menggunakan laser beam; sistem GPS, dan LCD multi fungi berwarna di kokpit, dll
  • ADO line-up telah ditingkatkan dengan penambahan RVV-AYe air-to-air guided missile; Kh-29L/T/TYe, Kh-31P, Kh-59M air-to-ground missiles; dan KAB-500 dan KAB-1500 guided bombs. Su-30MKK telah digunakan sebagai dasar untuk menghasilkan suatu versi upgrade, maka Su-30MK2, yang berbeda dari versi terdahulu dalam sistem senjata dan peralatan konfigurasi; pesawat dari jenis ini telah diberikan kepada Cina pada tahun 2003. Selain itu, Su-30MK adalah jenis aeroplanes dikirim ke Indonesia pada tahun 2003

Sukhoi Su-30 milik TNI AU (Indonesia)







Labels:

Saturday, 23 March 2013


"PROJECT ZERO" UAV ANEH DARI AGUSTAWESLAND


Pabrikan helikopter Eropa AgustaWestland meluncurkan pesawat tanpa awak dengan tilt rotor listrik pertama di dunia, sekaligus menegaskan bahwa pihaknya sudah berhasil melakukan beberapa uji coba penerbangan pada pesawat ini.

Layaknya pesawat Bell Boeing V-22 Osprey, pesawat listrik baru ini mampu lepas landas dan mendarat layaknya helikopter, namun tetap terbang seperti pesawat. Untuk sementara, pesawat ini dijuluki "Project Zero", yang oleh AgustaWestland teknologi tilt rotor diyakini adalah tata letak yang terbaik untuk pesawat di masa depan agar dengan cepat naik secara vertikal.

"Kami yakin konsep tilt rotor adalah konsep pesawat di masa depan," kata Daniele Romiti, CEO AgustaWestland. "Ini menghasilkan kecepatan dan jangkauan yang jauh lebih besar ketimbang teknologi helikopter konvensional."

Project Zero all-electric tilt rotor merupakan proyek revolusioner dari AgustaWestland. Dirancang, dibangun dan diuji coba dalam waktu dua belas bulan, dan diresmikan pada 4 Maret 2013 lalu, beberapa saat sebelum pameran helikopter "Heli-Expo" di Las Vegas, Amerika Serikat.

Merupakan hasil kolaborasi dengan perusahaan Finmeccanica -Selex ES, Ansaldo Breda, dan Ansaldo Energia- dan perusahaan mitra dari Italia, Inggris, Amerika Serikat dan Jepang. Pesawat tak berawak ini memiliki beberapa fitur unik antara lain konfigurasi tilt rotor unik aerodinamis, permukaan eksterior dari karbon grafit, Komputer Kontrol Penerbangan Integritas Tinggi dan Unit Kontrol Aktuator, inverter motor listrik dan algoritma motor kontrol, dan motor listrik magnet permanen axial flux.

Tidak hanya itu, pesawat ini tidak menggunakan hidrolik, landing gear tarik, nacelle tilting mechanism, dan elevons yang dikendalikan oleh aktuator elektromekanikal bandwith tinggi (EMA).


AgustaWestland bukan pemain baru dalam teknologi tilt rotor pada pesawat, setelah mengambil alih AW609, yang sebelumnya dikenal sebagai pesawat sipil Agusta Bell 609. AW609 menyerupai V-22 Osprey, namun lebih kecil dan berkabin pressurized. Berbeda dengan Osprey atau AW609, yang meletakkan mesin dan baling-baling pada ujung sayap, tilt rotor Project Zero terletak di dalam lebar sayap pesawat. Rotor ini sepenuhnya bertenaga listrik dan dapat diputar lebih dari 90 derajat.

Penerbangan pertama dilakukan di Italia pada tahun 2011, sejak itu uji coba terus dilakukan. Rotor berada dalam posisi horizontal saat akan lepas landas (take-off) dan mendarat (landing), yang menjadikan pesawat dengan cepat terangkat karena daya dorong yang dihasilkan. Saat sudah di udara, rotor berubah posisi seperti baling-baling di pesawat terbang. Ujung sayap dapat dilepas untuk beroperasi layaknya helikopter konvensional.

Soal spesifikasi, pihak AgustaWestland tidak menjelaskannya. Project Zero masih merupakan demonstrator teknologi, versi hybrid yang masih terus dikembangkan. Sebuah mesin diesel menggerakkan generator untuk mengalirkan elektron. Dan ketika pesawat berada di tanah dan diarahkan ke angin, maka windmilling blade bergerak untuk mengisi ulang baterai.



Kredit foto : AgustaWestland

Referensi: [artileri]

Labels:

Friday, 15 March 2013


BELL BOEING V-22 OSPREY, PESAWAT MULTI MISI ANDALAN AS


Bell Boeing V-22 Osprey


Bell Boeing V-22 Osprey adalah pesawat multi-misi Amerika Serikat. Sebagai pesawat dengan tiltotor, V-22 mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal - vertical takeoff and landing (VTOL).


V-22 Osprey dirancang dengan menggabungkan fungsionalitas dari helikopter konvensional dengan kinerja jarak jauh dengan kecepatan jelajah tinggi pesawat turboprop.


V-22 Osprey dibuat oleh Amerika Serikat melalui program Defense Joint-service Vertical take-off/landing Experimental (JVX), yang dimulai pada tahun 1981.


Pabrikan Bell Helicopter dan Boeing helicopter mendapatkan kontrak pembuatan V-22 Osprey pada tahun 1983. Pabrikan helikopter Bell dan Boeing akhirnya memproduksi pesawat ini bersama-sama.


Bell Boeing V-22 Osprey pertama kali terbang pada tahun 1989, lalu memulai uji penerbangan dan akhirnya mengalami perubahan desain. Kompleksitas dan kemampuan tiltrotor yang pertama menjadi kendala untuk diaplikasikan dalam militer dan inilah yang menyebabkan pengembangan V-22 bertahun-tahun tidak kunjung rampung.


Korps Marinir Amerika Serikat memulai pelatihan kru untuk V-22 pada tahun 2000 dan menerjunkannya pada tahun 2007. V-22 Osprey digunakan untuk menggantikan armada CH-46 Sea Knight Korps Marinir AS.


Pengguna lain dari V-22 Osprey, Angkatan Udara AS, menampilkan tiltrotor versi mereka pada tahun 2009.


Sejak memperkuat Korps Marinir dan Angkatan Udara AS, V-22 Osprey telah dikerahkan dalam pertempuran dan operasi penyelamatan di Irak, Afghanistan dan Libya.


Proses pembangunan V-22 yang kontroversial dan memakan waktu yang lama salah satunya karena melonjaknya biaya. Anggaran pembangunan V-22 pertama kali dianggarkan sebesar 2,5 miliar dolar pada tahun 1986, kemudian melonjak menjadi 30 miliar dolar pada tahun 1988.


Pada tahun 2008, 27 miliar dolar telah dihabiskan untuk program Osprey dan 27,2 miliar dolar lainnya digunakan untuk biaya produksi.


V-22 Osprey tetap aman dalam pendaratan dengan mengaktifkan mode helikopter jika kedua mesin mengalami kerusakan.


Dengan penerjunan pertama ke medan tempur dari MV-22 Osprey pada bulan Oktober 2007, majalah Time mengatakan bahwa pesawat tersebut tidak aman, mahal dan benar-benar tidak memadai. Salah satu kecelakaan jatuhnya pesawat V-22 Osprey baru-baru ini terjadi saat latihan pada bulan Juli lalu di Florida, AS.

(Semua gambar Bell Boeing V-22 Osprey milik Pravda.ru)

Referensi: [artileri]

Labels:


LEGENDA PENERBANGAN : SUPERMARINE SPITFIRE



Supermarine Spitfire adalah pesawat tempur satu-kursi Inggris yang digunakan Angkatan Udara Inggris (Royal Air Force) dan banyak negara sekutu lainnya selama Perang Dunia II.


Supermarine Spitfire terus digunakan sebagai pejuang garis depan dan dan untuk peran sekunder lainnya hingga tahun 1950.


Pesawat ini diproduksi dalam jumlah yang lebih banyak daripada pesawat Inggris lainnya dan sebagai satu-satunya pejuang Inggris yang di produksi terus-menerus setelah Perang Dunia II.


Supermarine Spitfire dirancang untuk melakukan misi jarak pendek, dan sebagai pesawat interceptor performa-tinggi dari R.J Mitchell, kepala desainer Supermarine Aviation Work (yang beroperasi sebagai anak perusahaan dari Vickers-Amstrong, 1928).


Dimana kecepatan dipandang penting dalam melaksanakan misi untuk melawan pesawat bomber musuh, sayap elips cross-section dari Supermarine Spitfire membuatnya memiliki tingkat kecepatan yang lebih tinggi ketimbang pesawat kontemporer lainnya, termasuk pesawat Hawker Hurricane.


Selama Battle of Britain (Juli-Oktober 1940), Spitfire dianggap oleh publik sebagai pejuang tangguh Royal Air Force, meskipun Hawker Hurricane yang lebih banyak mengambil porsi untuk melawan melawan Luftwaffe (pesawat bomber Jerman).


Supermarine Spitfire memiliki tingkat reduksi yang lebih rendah dan rasio kemenangan berbanding kerugian lebih tinggi dibandingkan Hawker Hurricane.


Setelah Battle of Britain, Supermarine Spitfire menjadi tulang punggung Komando Fighter RAF, dan telah menunjukkan aksinya di Eropa, Mediterania, Pasifik dan Asia Tenggara.


Dicintai oleh banyak pilotnya, Supermarine Spitfire di desain dalam beberapa peran, termasuk interceptor, pengintai (foto), pembom tempur, pesawat latih dan berbasis kapal induk.


Dibuat dalam berbagai varian dengan menggunakan bermacam-macam konfigurasi bentuk sayap.


Meskipun secara original badan pesawat dirancang untuk menggunakan mesin Rolls-Royce Merlin yang berkekuatan 1.030 hp, namun masih bisa beradaptasi untuk mesin Merlin yang lebih kuat dan yang terakhir adalah mesin Rolls-Royce Griffon dengan kekuatan 2.035 hp.

(All photos: All Over Press)

Referensi: [artileri]

Labels: